Ranah

Cantumkan Bonai Dalam Peta!

“Kami sudah mengumpulkan dana untuk membantu perjalananmu, ke mana harus dikirimkan?” suara seorang sahabat dari seberang sana. Itu suara Ricky, sahabat sejak kecil, ia menelepon ketika saya di Wamena.

Di Wamena, saya bekerja di salah rumah makan di jalan Irian, untuk menyambung hidup di perantauan. Ada yang hangat di dada, ribuan kilo terpisah, mereka masih ingat saya dan patungan mengumpulkan uamg untuk membantu biaya perjalanan. Tapi saya sudah berkomitmen untuk tetap bertahan dan melakukan apapun selama di perjalanan, tanpa harus menyusahkan mereka di kampung halaman. Dengan berat hati saya menolak bantuan dari sahabat-sahabat itu.

Lahir di zaman peralihan, mungkin kami generasi terakhir yang masih menikmati indahnya masa kanak tanpa telepon pintar. Ingatan saya melayang ke tepian sungai, derasnya aliran sungai dan riuhnya teriakan kami yang berenang bersama. Kilatan itu lalu menuju rasa diintai kawan saat bermain petak umpet, hingga riangnya bermain layang-layang di sawah.

Usai mandi di sungai, biasanya kami mengendap-endap ke kebun entah siapa, kami berkomplot mencuri singkong atau jagung. Bukan untuk dijual, tapi hanya mencari kesenangan, singkong dan jagung bakar menghangatkan perut keroncongan bocah-bocah yang gigil usai mandi di sungai, serupa kami. Mereka inilah yang membakar asa, membangun saya dari mimpi dan mewujudkannya.

Lahir dan besar di Bonai, sebuah wilayah di Payakumbuh sana, saat deru peradaban kota belum mengusik kebahagian sederhana para orang kampung. Saya hanya satu di antara riangnya kampung Bonai.

Kampung ini, sangat mudah membuat anda bahagia. Coba simak nama-nama sahabat saya, lalu jika anda punya teman orang Minang, tanyakan pada mereka apa arti nama-nama para sahabat saya ini. Selain Ricky yang menelepon tadi, ada Caciang, Ridho, Budi, Kacak, Dion, Puyu Beibeh, Jefri, Ab, Niko, Chika, Kawek, Canduang, Djamaris, Noval, Ade, Gabia, Keron Kalera, Taya, Tayi, Ity, Manjang, Gadoy, Patuak, Bos, Tukiak dan masih banyak lagi warga Bonai yang membuat saya sering tersenyum di sepinya rimba Indonesia Timur.

Bonai merupakan kawasan kecil yang berada di bagian Barat Payakumbuh. Kami berbaur dari yang kecil hingga yang tua, kami masih memegang prinsip “Kato Nan Ampek”, sebuah tata tata cara berkomunikasi yang unik, ada aturan tak baku, namun sudah mendarah daging. Ada tata karma dalam berbicara yang diajarkan turun temurun, jauh sebelum ilmu public speaking dan teori-teori komunikasi di ajarkan di kampus-kampus.

Sekolah dengan bangku, kurikulum dan penilaian dari rapor per catur wulannya tidak cocok bagi kami yang belajar pada alam, belajar untuk menghargai bahwa segala sesuatu bermanfaat sesuai dengan fungsinya. Bukanlah, semua binatang harus pandai memanjat, serupa sekolah yang memaksa semua anak bisa rumus aljabar.

Waktu sekolah saya lebih banyak belajar di luar, daripada mengikuti pelajaran di kelas. Wajar saja, selama 4 tahun di Sekolah Menengah Atas atau SMA, 4 macam pula SMA yang nama saya terdaftar sebagai muridnya. Saya lebih menikmati berdiskusi di Lapau bersama orang-orang tua yang jauh umurnya di atas saya.

Di Minangkabau Lapau merupakan sarana tempat pembelajaran, dimana kita bebas berdiskusi tentang apapun. Dari persoalan adat, politik hingga hal-hal yang dianggap tabu oleh Negara ini. Hanya lapau tempat paling demokratis di negeri ini, saat semua pendapat dan opini tidak harus melewati redaktur opini di koran, atau harus patuh pada durasi tayangan di televisi.

Inyiak Mastiak, nama salah seorang guru saya, mungkin sekarang ia dianggap gila alias sedeng di Payakumbuh. Namun, Inyiak Mastiaklah yang membenamkan ide untuk mengelilingi bumi ini, membuat saya tak henti melangkah, mencari kira-kira di sudut mana ada warna lain dari warna warni kehidupan sebelum Izrail datang menjemput.

Setiap pagi dengan memakai seragam putih abu-abu, saya tidak berangkat ke sekolah akan tetapi menuju rumah Inyiak Mastiak. Saya sangat suka mendengar cerita-cerita dari beliau yang sudah melalang buana ke beberapa negara di Asia Tenggara.

Tidak hanya Inyiak Mastiak, ada lagi Namanya Buyuang. Seeorang penyandang Difabel fisik yang mempunyai warung kecil di Bonai, dia juga salah satu inspirasi dalam hidup saya. Semua barang dagangannya delivery melalui tukang ojek, jauh sebelum Go-Jek, Grab, dan Uber digunakan orang-orang kota, Buyuang lebih maju pikirannya dari mereka yang pakai kemeja. Satu lagi, sebaiknya bos-bos perusahaan transportasi online harus mempekerjakannya, Buyuang sangat jeli berhitung. Meski barang dagangannya delivery, ia tetap untung, di sana kelebihannya.

Pernah satu waktu seorang teman dari Jakarta saya ajak berkunjung ke warung Buyuang, setelah berbelanja dan dia kasihan melihat kondisi Buyuang. Dia tak mau menerima uang kembalian dari Buyuang, biarlah buat Buyuang pikirnya.

Tapi, bukan Buyuang namanya, ia pantang dikasihani. Buyuang naik pitam, ia marah “Jangan lihat orang dari kondisi fisik, saya masih punya harga diri” ucap Buyuang kepada teman saya yang membuat dia malu sendiri. Di Jakarta orang-orang menjual kesedihan dan kelemahan, di kampung kami itu hanya lelucon untuk menikmati hidup.

Buyuang merupakan salah satu warga prioritas di Payakumbuh, dia memiliki warung di area taman kota. Warung itu hanya berukuran 1,5 X 3 meter, dan dia juga tinggal disana seorang diri. Dia mempunyai mimpi suatu hari bisa menunaikan ibadah Haji ke Mekah sana.

Setiap petualang lokal atau mancanegara yang berkunjung Payakumbuh, selalu saya ajak ke sana. Mereka harus belajar banyak dari Buyuang, tak lengkap tubuh, tapi punya akal dan hati yang utuh.

Hanya syukur yang selalu saya ucap, kampung saya yang jauh dari hingar bingar kota menyimpan orang-orang hebat dan saya beruntung pernah bisa belajar dari mereka. Bahkan sebelum bertualang mengelilingi Indonesia, mereka menitipkan pesan, memberi nasehat soal merantau, petualangan, atau bahasa kekiniannya travelling.

Dari falasafah “Alam takambang jadi guru” “Di ma Bumi dipijak, di isitu langik dijunjuang,” hingga bagaimana mengamalkan ilmu pamungkas para perantau, yakni mencari keluarga angkat dan melebur bersama kearifan lokal warga setempat.

Saya masih ingat perkataan seorang tua di kampung halaman, “Ketika berada di manapun, hilangkanlah keminanganmu, jadilah bagian dari mereka,” pesan seroang tetua di kampung.

Pertama berada di tanah perantauan saya terkejut, bagaimana identitas Minang berganti dengan Padang. Padahal Padang itu nama kota bukan suku bangsa, saya orang Minang dari Payakumbuh. Bahkan ketika orang-orang tidak tahu di mana Payakumbuh, saya akan menerangkannya.

Bahkan di dalam perjalananpun saya banyak menemukan orang-orang yang malu menyebutkan nama kampung halamannya. Mereka lebih suka menyebut nama kota besar, padahal kampung halamannya bisa berjarak ratusan kilo dari kota tersebut. Kota “Padang” adalah sebutan paling laku bagi para perantau, padahal mereka bahkan tak tahu Kota Padang itu serupa apa, selain bandara dan plaza Andalas-nya saja.

Sudah saatnya kita bangga menyebut nama kampung halaman sendiri, warna warni kebhinekaan anugerah dari yang Maha Kuasa. Nama saya Adal, tapi panggil saya Adal Bonai.

Karena Bonai adalah rumah dan kepulangan yang entah kapan, namun dendang soal Bonai jadi obat paling mujarab saat rindu menggigilkan tulang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up