Ranah

Bukan Hanya Pemikiran, Burung Pun Ada Mazhabnya

Dalam era sekarang saat transportasi dan informasi semakin cepat dunia burung pun semakin beragam. Orang bisa memiliki klangenan yang berasal dari Brazil atau Mozambique dan Botswana. Namun akitivitas sosial yang berkaitan dengan burung ini dapat dianalisa menjadi tiga mazhab.

Golongan pertama : Mazhab Kicau

Mungkin Anda pernah melihat sebuah kotak yang ditutup kain dan digendong oleh pengendara motor di jalanan. Kotak tersebut sebenarnya kandang yang ditutup kain dan berisi burung kicau. Bisa macam-macam burung yang dibawa. Ada dua hajat pengendara itu membawa kandang yang ditutup kain. Pertama mereka akan atau sehabis ke medan laga untuk mengadu kicau burung mereka. Kedua mungkin mereka sehabis bertransaksi untuk “memahari” sang burung dambaan.

Dalam kosakata kicaumania entah mengapa tidak memakai membeli atau menjual burung. Mereka lebih cenderung memakai kalimat mau lepasin momongan, cari majikan baru, dimahar aja nih om. Burung-burung ini sudah dianggap bagian dari hidup jadi tidak lagi dianggap sebagai komoditi untuk jual beli.

Klangenan mazhab ini yaitu burung Murai Batu, Cucak Hijau, Kacer, Kenari, Pleci, Cucak Rawa, Anis, Jalak Suren, Ciblek dan burung kicau lainnya.

Golongan Kedua : Mazhab Warna Bulu

Fokus penghobi di mazhab ini bukan kicau si burung melainkan keindahan dari warna bulu burung-burung peliharaannya. Burung-burung yang dipelihara umumnya dari bangsa finch (emprit-empritan) dan paruh bengkok.

Dari kedua bangsa burung ini penghobi mendapat kebahagian jika usaha mereka untuk membudidayakan menghasilkan mutasi warna baru. Burung-burung yang umumnya menjadi klangenan mazhab ini yaitu Zebra Finch, Goulden Amadin, Gelatik Jawa, Bondol Haji, Emprit Hijau dan Parkit.

Ada satu hal menarik, salah satu burung yang sebenarnya termasuk dalam spesies bulu indah namun banyak dipelihara oleh penyuka kicau. Burung tersebut yaitu Lovebird.

Golongan Ketiga : Mazhab Merpati

Mazhab ketiga ini bukan mencari kepuasan batin dari kicauan atau warna-warni yang semarak. Mazhab merpati lebih menekankan pada ketangkasan burung kesayangannya dalam terbang.

Ada kelas terbang sprint dan ada kelas terbang kolong. Kelas terbang sprint burung merpati akan diadu siapa yang paling cepat dengan jarak pendek.

Kelas terbang kolong merpati-merpati akan diangkut oleh joki menjauh dari arena lomba dengan jarak bisa sampai satu sampai dua kilometer. Burung-burung dilepas dan terbang tinggi lalu menukik menuju kolong yang sudah disediakan.

Kolong ini berupa empat bambu yang telah dicat merah putih setinggi 7 meter yang disusun menjadi kubus dan kempat bambu ini disatukan oleh tambang dipucuknya. Merpati yang pertama masuk kolong dan dari atas bukan dari samping kolong akan menjadi pemenang. Persamaan kedua balapan ini terletak pada merpati yang mabuk kepayang mendekati pasangannya.

Sebenarnya ada satu lagi kelompok pecinta burung yang tidak masuk ketiga mazhab di atas, namun kelompok ini tidak semarak. Kelompok ini yaitu pemelihara burung-burung karnivora, seperti pecinta Celepuk, Burung Hantu, Alap-alap dan Elang. Pecinta burung karnivora ini komunitasnya belum tentu ada di setiap kota dan pertemuan untuk berbagi informasi serta perlombaan yang digelar tidak sesering dan terjadwal seperti Mazhab Kicau, Warna Bulu, dan Merpati.(DNA)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up