Ranah

Boven Digoel, Hatta dan Hikayat Sebuah Vespa

“Ntar aja abis lebaran, kita berangkat bareng ke Digoel, gue mau bikin body vespa dulu,” ucap Devak meyakinkan saya untuk tetap tinggal di Merauke, rencana pergi ke Boven Digoel diundur setelah lebaran.

Saya datang ke Merauke hari pertama bulan ramadhan, rencana keberangkatan pada pekan kedua bulan Ramadhan ke daerah Boven Digoel diundur. Saya ingin melihat langsung daerah yang pada zaman penjajahan kolonial sangat ditakuti.

Devak pun membuat Body vespa yang dilengkapi dengan gandengan atau sespan, yang memiliki 6 roda. Butuh waktu sekitar 2 pekan bagi Devak untuk membuat body vespa, ia menjadi arsitek sekaligus mengeksekusinya sendiri.

Vespa yang ia buat memiliki panjang 2,5 meter, dimodif sedemikian rupa. Stangnya terbuat dari rantai, untuk tangki bahan bakarnya, Devan menempelkan tabung gas 10 kg, persenelingnya dibuat seperti milik mobil. Di depan tempat duduk serta tempat untuk penumpangnya saya dan seorang pejalan lainnya duduk dengan tenang sebagai penumpang. Devak menamai vespanya dengan Wagaru.

Kami berangkat bertiga, saya, Devak dan seorangpetualang lainnya yang cukup gila. Ia datang saat Devak tengah membuat body vespa, ia adalah pengeliling nusantara dengan sepeda onthel dari Kendal. Ronny Hartono. Pakde Ronny begitu kami memanggilnya

Usai bersilaturrahmi saat  lebaran dan mengunjungi keluarga angkat serta teman-teman di Merauke, kamipun bersiap-siap untuk berangkat ke Boven Digoel.

Menurut informasi, jalanan ke Boven Digoel sangat terkenal akan lumpurnya. Lumpur merah begitu orang menyebutnya. Lumpur itu jadi teman sejati penempuh rute itu. Kadang ada kubangan lumpur sedalam 1 meter yang bisa ditemui di jalanan.

Setelah sepeda onthel Pakde Ronny diikat di atas sespan, ada satu buah kursi mobil untuk kami duduk berdua juga.

Untuk bahan bakar vespa ini, Devak mencampur bensin dengan solar. 2 liter bensin ia campur dengan 1 liter solar, jangan coba dirumah, berbahaya. Di vespa itu, Devak memasang bendera “OI”  berukuran 1,5 X 1.5 meter, bendera para fans Iwan Fals. Bagi Devak, Iwan Fals adalah tokoh yang menginspirasinya untuk melakukan perjalanan mengelilingi bumi Nusantara dengan Vespa.

Setelah dilepas oleh Chandra, Surya dan Gempol, kami bertiga menuju titik 0 km indonesia bagian timur. Distrik Sota

Berangkat!

Ini adalah pertama kalinya saya melakukan perjalanan dengan Vespa, tetap dengan gaya yang sama, nebeng.

Sota berjarak lebih kurang 80 Km dari Merauke, jalanannya masih aspal kasar. Goncangan di atas Wagaru lumayan terasa, kadang kala lobang rajin menyapa. Pemandangan yang cantik serta hembusan angin yang sejuk memeluk perjalanan ini, ditemani nyanyian 3 orang jomblo melaju bersama vespa.

Kami berhenti sejenak di Taman Nasional Wasur, memasak air untuk menyeduh kopi. Taman Nasional Wasur terkenal dengan Saham (Kangguru), burung Kasuari, sarang semut serta keindahan daerah rawa-rawanya.

Kami tiba di Sota sekitar pukul 19.30 WIT, kemudian menuju rumah dinas polisi Bapak Ma’ruf Suroto. Bagi para pengeliling Indonesia, Bapak Ma’ruf Suroto adalah orang tua angkat yang sudah berdinas di Sota dari tahun 1993. Kami menginap di rumahnya, yang terasa seperti rumah sendiri.

“Dengan ini kalian berangkat ke Digoel sana?” tanya Bapak Ma’ruf sembari tersenyum, “iya pak” jawab Devak yang sudah beberapa kali berkunjung ke Sota. Dia juga memberi masukan untuk melepas gandengan atau sespan Wagaru, karena kami akan melewati medan yang susah.

Truck saja butuh wajktu berbulan-bulan untuk samapi ke Tanah Merah, Boven Digoel. Bahkan ada cerita offroader dari jakarta yang balik kanan, karena tak mampu menaklukkan jalur tersebut. Saya semakin penasaran. Angkutan umum darat dari Merauke hanya Hiland, mobil yang mirip off road yang berkapasitas untuk 5 penumpang. Bagian depannya dilengkapi dengan wing, serupa gulungan kawat besar.

Pagi hari kami menemani dan membantu  Pak Ma’ruf Suroto membersihkan taman titik 0, taman ini merupakan hasil buah tangan beliau dan keluargamya. Ada gapura beton,  di atasnya burung Garuda dengan lambang Pancasila, serta tulisan besar “Good Bye and See You Again Another Day”. Di taman itu juga Devak pernah membuat sebuah tugu kecil bertuliskan namanya dan nama seorang kawannya. Chibe, begitu nama itu tertulis di ujung paling timur Indonesia.

Ada pos perbatasan di dekat gapura tersebut, pasukan TNI yang berasal dari Yonif 132 Bangkinang bertugas menjaga perbatasan Negara di Kabupaten Merauke, ribuan kilometer dari kampungnya di Riau sana.

Setelah sarapan pagi hasil masakan istri Bapak Ma’ruf Suroto, kami siap-siap melanjutkan perjalanan tapi terlebih dahulu kami kembali ke Taman 0 Km. Untuk sekedar mengabadikan momen berharga ini, pengingat di masa depan. Cekrek…cekrek.

Kami pun pamit dan minta doa kepada Bapak Ma’ruf Suroto dan istrinya, kembali menyusuri jarak.

Di dalam perjalanan kami berbagi cerita perjalanan, saya banyak belajar bagaimana cara berjalan dari Devak dan Pakde Ronny.

Kami mulai menemui jalanan berlumpur serta jembatan dari kayu gelondongan, lobang jalanan yang membuat kami terhentak gampang ditemui. Kami juga berhenti dan melapor diri di pos pengamanan  perbatasan (Pamtas), silaturahmi dengan suasana masih lebaran.

Mereka sangat senang menerima kami, karena kami juga berbagi cerita tentang daerah-daerah yang pernah kami lalui. Mengurangi jenuh mereka yang berbulan-bulan berada di tempat yang sama.

Ada juga cerita tentang Patroli yang nyasar di dalam hutan, mereka juga telah mengeluarkan tembakan peringatan tapi tidak ada respon dari pos.

“Kalau kita nyasar di hutan, duduk aja jangan jalan” cerita seorang prajurit kepada kami.

Mereka masih duduk hingga ditemukan oleh teman-temannya pada senja hari, alangkah terkejut mereka ketika jarak dari mereka duduk ke pos hanya 50 meter.

Saya teringat kisah jaman kolonial Thomas Nayoan orang Minahasa, tawanan di penjara Digoel. Dia selalu berusaha melarikan diri, 2 kali tertangkap dan yang ketiga kalinya melarikan diri ke hutan. Setelah itu tidak ada kabar darinya, hilang ditelan bumi.

Kami juga diberi tambahan logistik, karena perjalanan kami masih jauh. Kami sangat bersyukur menerima kebaikan para prajurit dari pos-pos yang kami singgahi. Di perjalanan kami bertemu dengan Chibe dan Haris yang akan balik ke Merauke, mereka lebaran di daerah Muting. Salah satu kawasan Transmigrasi di Merauke, sudah ada adiknya Haris yang menunggu di sana.

Chibe juga menyarankan agar gandengan atau sespan Wagaru dilepas, karena setelah Muting jalanan akan lebih parah lumpurnya.

Sesekali kami turun dari Wagaru, membantu mendorong atau bahkan mengangkat vespa besi ini agar keluar dari jalanan berlumpur. 2 roda di sespan terlepas, karena hentakan.

Kami masih berusaha untuk bisa sampai di Muting, harap-harap cemas supaya Wagaru aman-aman saja sampai di sana.

Gerimis malam menyambut kami di Muting, kamipun menuju Pos Pamtas yang berada di sana dan diizinkan menginap disana. Kami diajak makan malam bersama ala prajurit, lalu kami berramah tamah.

Di seberang Pos tersebut ada tempat camping orang-orang dari negara tetangga, Papua New Guinea. Pagi setelah sarapan pagi, kami bermain dan berkenalan dengan orang-orang PNG tersebut.

Mereka datang untuk membeli sembako ke Muting, saya sangat takjub, karena jarak yang mereka tempuh dari kampungnya ke Muting memakan waktu 2 hari jalan kaki melewati hutan dan 7 jam naik perahu. Mereka juga membawa hasil-hasil hutan seperti kayu gaharu dan tangkur buaya untuk dijual di Muting.

Dari berbagai masukan, akhirnya Devak mencopot sespan Wagaru. Logistik yang terkumpul satu karung dari pos-pos yang disinggahi terpaksa kami tinggal, hanya secukupnya saja yang bisa dibawa, sebab sespan Wagaru harus dilepas.

Pakde Ronny kembali mengayuh onthelnya, saya tetap nebeng di atas Wagaru. Posisi duduk penumpang yang awalnya nyaman berubah 180 derjat. Saya duduk di tubuh Wagaru, tanpa tempat duduk ini membuat kepala saya dan pantat Devak yang tengah mengemudi hanya berjarak 15 Cm saja. Tak usah membayangkannya.

Sespan dan barang-barang lainnya kami titipkan di rumah Haris, seorang kenalan di Muting. Di rumah Haris, Devak juha mengecek mesin Wagaru, apakah ia baik-baik saja karena sudah melewati perjalanan yang ekstrim. Kami juga membawa solar dan bensin, di sini harganya 2 kali lipat dari harga normal.

Setelah semuanya beres, kamipun pamit dan berterima kasih pada Komandan Pos yang sudah memberikan izin untuk menginap di pos tersebut. Pakde Ronny, lelaki yang berbadan kecil berumur 33 tahun itu semangat mengayuh Onthelnya. saya dan Devakpun semakin semangat juga melanjutkan perjalanan, saya berkeinginan sampai di kamp konsentrasi Boven Digoel.

Kamp yang didirikan pada awal tahun 1927 oleh  Kapten L. Th. Becking, tempat diasingkannya para pejuang-pejuang militan. Pada saat itu terkenal istilah “Didigulkan” atau sama saja dengan menjemput kematian, daerah yang terkenal dengan malarianya yang mematikan serta buaya-buaya di sungainya.

Founding Fathers Repubik ini, Hatta dan Syahrir pernah mendekam di Digoel.

Beberapa kali Devak dan saya jatuh karena licinnya jalanan, Wagaru hanya memakai ban standar Vespa, ia kewalahan menggigit lumpur Digul. Sesekali kaki saya tersangkut lumpur. Perjuangan Pak Ronny layak diacungi jempol, setiap kami melewati jalanan dengan lumpur parah, dia menggendong sepeda onthel-nya. saya juga membantu Devak mengangkat bagian belakang Wagaru yang terjebak lumpur.

Di tengah perjalanan kami berpisah dengan Pakde, dia lebih cepatdari kami, karena setiap Wagaru keluar dari lumpur maka bannya harus dibersihkan. Saya hanya menggunakan sendal jepit sebagai alas kaki, begitu juga dengan Devak. akhirnya kami bertelanjang kaki, karena lumpur suka lengket di sendal kami.

Untuk menaklukkan jalanan menuju Digul ini kami berbagi tugas. Saya memastikan dan mencek mana bagian jalan yang bisa dilewati Wagaru, meraba-raba dengan kaki. Kadang kaki ini tertusuk ranting kayu yang tertimbun lumpur.

“Aduuuuuuh” saya kesakitan kala salah satu rantingnya menusuk kaki. Devak malah tertawa melihat  wajah saya yang meringis.

Tak terbayang bagaimana kesakitan-kesakitan yang dirasakan oleh tapol-tapol jaman kolonial di sana, mereka yang tanpa pamrih berjuang demi kemerdekaan tanah airnya. Hanya ranting kayu? Ini tak sakit, kami harus sampai Digul.

Saya heran dengan Devak melihat semangatnya, ia tak mudah lunglai, mungkin karena dia sudah tahunan melakukan perjalanan jadi semangatnya sudah terasah.

“Jangan pernah menganggap jalanan tidak bersahabat, tapi bersahabatlah dengan jalanan” kalimat Devak ini selalu saya ingat.

Dengan dua kamera digital pinjaman dari Vembi dan Boma (seorang kawan selama perjalanan), saya mengambil video dan foto. Hingga satu kamera rusak karena kena air hujan, saya lupa membungkusnya dengan plastik.

Ahirnya kami sampai ke jalan yang terkenal dengan kubangan lumpurnya, saya melihat ada beberapa truck yang terjebak di sana.

Saya menamainya dengan “Jalan harapan”, karena ada cerita seorang Ibu yang akan melahirkan terlambat mendapatkan pertolongan bantuan persalinan meninggal dan dikubur dekat jalanan sana bersama bayinya. seorang Ibu yang berharap supaya anaknya bisa hidup di dunia, akan tetapi nasib berkata lain.

Matahari tenggelam dan gerimis sejak siang enggan berhenti. Kami masih berusaha untuk keluar dari kubangan lumpur. Tak ada alat penerangan yang kami punya, Wagaru pun terendam lumpur hingga mesin-mesinnya. Devak terdiam, tenaga sudah sangat terkuras seharian jalan. Kami harus meninggalkan Wagaru, karena sekitar 1 Km di depan ada pos Pamtas.

Kami meraba-raba jalanan tanah yang licin, terkadang kami berpegangan tangan supaya tidak jatuh. untuk mengisi kejenuhan, kami bernyanyi di jalan. Hingga kami mendapatkan tumpangan Hiland, berdiri gelayut di belakang mobil. Akhirnya kami sampai di Pos, meminta tumpangan menginap.

Paginya kami kembali menjemput Wagaru, dibantu beberapa pengendara motor yang telah bebas dari kubangan untuk mengeluargan Wagaru. Kemudian ditarik hingga pos, beberapa kali Devak terjatuh.

Hanya butuh waktu 4 jam bagi Devak untuk membongkar mesin dan membersihkannya dari lumpur, bahkan oli mesinnya sudah tercampur dengan lumpur. Dia sudah menyatu dengan Wagaru, memang Scooterist sejati.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, meraba kembali lumpur yang penuh dengan jebakan ranting. Saya masih bertugas meraba-raba jalanan, jika tertusuk ranting, Devak tertawa, terkadang kami mengambil video perjalanan dan berlagak ala-ala host acara petualangan.

Akhirnya kami memasuki hutan sawit perusahaan “Korindo”,  kami sudah sampai distrik Asiki. Kami menginap di rumah Babe Subur, Betawi yang menjadi kepala mekanik di bengkel mesin Korindo.

Dia sangat senang, apalagi bertemu dengan Devak yang Betawi juga. Betawi ketemu Betawi di tengah hutan sawit Papua, saya berasa berada di Jakarta.

Selama 4 hari kami berada di Asiki, menunggu kiriman sparepart untuk wagaru dari Merauke. Karena di Asiki sudah ada signal handphone, jadi kami bersyukur bisa menghubungi teman-teman di Merauke.

Body wagaru pun banyak dilas kembali, banyak bagian yang tempelan lasnya lepas. Babeh subur sangat membantu kami, terlalu banyak orang yang membantu kami tanpa pamrih. Saya banyak bertemu orang-orang hebat yang baik hati.

Wagaru siap kembali melibas jalanan berlumpur, meraba lumpur jalanan dan mengangkat bagian belakang Wagaru bila terjebak menjadi tugas rutin.

Apa yang saya rasakan mungkin tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh pejuang-pejuang yang dulu dibuang ke Digoel, saya hanya bagian dari generasi milenial yang kesakitan saat ranting  dalam lumpur menusuk kaki. Jauh lebih susah, payah, sakit, dan saya tak punya kata lain untuk menggambarkan penderitaan para Founding Fathers dan pejuang-pejuang kita terdahulu. Tak berbading dengan perjalanan ini, saya hanya upil dibandingkan mereka.

Akhirnya kami sampai di Tanah Merah, Ibukota Kabupaten Boven Digoel. 15 hari perjalanan dari Merauke, kami disambut oleh monumen patung Mohammad Hatta yang menunjuk ke bumi.

Seandainya patung Hatta itu bisa berbicara, mungkin dia akan berkata “Selamat didigulkan, Nup Bagen Ngup Bagenep (saya ada karena kamu ada)”.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up