Ranah

Berkunjung Ke Israel Pulang Ke Minangkabau (Bagian 2)

Jerussalem adalah tanah agama-agama langit, Yahudi, Kristen dan Islam. Tembok ratapan memagari Al Quds, sementara tempat yang dipercaya umat Kristiani sebagai makam Yesus terletak di Talpiot Tomb, sekitar 5km sebelah timur kota Jerussalem. Di kota abadi ini kita akan menemukan Jewish Square, Christian Square, Moslim Square dan Armenian Square.

Saat saya memasuki Jewish Square, tempatnya terlihat sangat bersih, bebas dari pedagang dan kita hanya akan menemui orang-orang Yahudi yang sibuk berdoa. Sementara di Christian Square saya dapati tempat itu lebih sederhana, bersih dan orang-orang yang ramah. Sementara Armenian Square masih menyisakan kebigungan bagi saya, kenapa ada tempat khusus untuk mereka? apa mungkin mewakili kaum Orthodox atau karena mispersepsi abad ke-19 dimana banyak orang menyangka Armenia itu juga Yahudi?

gereja

Suasana berubah drastis begitu saya memasuki Moslem Square. Saya menemukan tempat yang jorok, penuh pedagang dan beberapa di antara mereka malah memaksa kita membeli dagangan dengan intimidasi.

Kondisi Moslem Square itu menimbulkan banyak tanya, apakah kenyataan itu mewakili budaya Islam Palestina atau situasi politik yang memaksa mereka dalam keadaan seperti itu. Sayangnya di kota suci tiga agama langit ini, sulit mencari jawaban pasti. Setiap agama menyimpan kutukan sendiri-sendiri.

Saya ingin memasuki Al Quds, sayangnya tempat itu sedang ditutup oleh tentara Israel. Untunglah prajurit yang berjaga waktu itu tidak bisa menolak permintaan sang jenderal, jadi kami bisa melenggang masuk. Karena alasan keamanan, seringkali tidak diperbolehkan masuk dan shalat di Mesjid Al-Aqsa – bukan Dome of Rock -, kadang-kadang hanya boleh untuk shalat subuh dan bagi orang-orang diatas umur 50 tahun.

al quds

Saya tidak percaya pada konsepsi tanah yang dijanjikan. Tetapi saya percaya bahwa Israel adalah tanah yang menjanjikan. Itulah yang saya lihat di sebagian besar wilayah Israel. Tanah yang subur di tengah-tengah tetangganya yang gersang. Perkebunan anggur and olive tumbuh subur ditunjang dengan pertanian berbasis teknologi membuat Israel jadi surga buah dan sayur di Timur Tengah.

Soal rasa, jangan pertanyakan lagi. Kurma Israel misalnya, manisnya terasa paling enak di lidah dibanding kurma-kurma lain dari negara Timur Tengah. Industri buah-buahan ini turut menyumbang perekonomian Israel. Soal tanah yang subur ini mengingatkan saya pada kampung halaman saya di Minangkabau. Sayur mayurnya mengingatkan saya pada pusat sayur mayur Padang Luar dekat Bukittinggi.

Tetapi bukan soal buah dan sayur saja yang mengingatkan saya pada Ranah Minang. Orang-orang Yahudi pun mengingatkan saya pada orang-orang Minang. Masyarakat Yahudi menganut sistem matrilineal, garis keturunan menurut ibu, sebagaimana masyarakat Minang. Orang Yahudi dimana pun kita temui adalah pribadi yang sangat ramah, manis mulut kalau istilahnya di Minangkabau.

Apalagi jika menyangkut soal transaksi bisnis, mulut mereka sangat manis sebagai pedagang mengingatkan saya pada pasar Tanah Abang atau Blok M. Tetapi jangan tanya kalau mereka yang jadi pembeli, pelitnya selangit layaknya orang Minang. Perbedaaan harga 5 Shekel (sekitar 18.000 Rupiah) akan jadi perbincangan berminggu-minggu yang masalahnya terlihat lebih besar dibanding Hezbullah di Lebanon Selatan.

Mungkin itulah jawaban dari kecurigaan saya selama beberapa tahun belakangan, kenapa saat bertemu dan tinggal bersama keluarga Yahudi saya merasakan perasaan yang sama ketika tinggal di kampung halaman. Otoritatifnya perempuan, mulut manis, pintar berdagang, keras kepala dan pelit tentu jadi jawabannya. Soal kepintaran menurut saya sangat relatif.

Itulah beberapa kesan perjalanan yang bisa saya bagi di ranah.id. Kunjungan ini adalah fakta yang harus dipercaya sementara kesan yang saya dapatkan tentu saja layak untuk diperdebatkan. (IZ)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up