Ranah

Belum Ada Judul Untuk Spartack’s

“Berdamailah… Berdamailah…. suporter Indonesia

Satu nusa..

Satu bangsa..

Satu Indonesia..

Hargai perbedaan, lupakan permusuhan

Mari kita ciptakan perdamaian…

Salam sanak sakampuang, dari kami Spartacks..

Untuk perdamaian Indonesia,”

Lirik itu menggema dalam ruang telinga, ada kenangan yang tak bisa saya lupakan dari suara-suara para Suporter di tribun stadion.

***

“Saya dari 2002 di Karawang, 2011 baru berkumpul dengan sesama perantau Minang, kami tergabung sebagai sesama suporter Semen Padang, Spartacks.” Ujar Da Af memulai ceritanya.

Da Af, seorang buruh pabrik yang pekerjaan utamanya menonton Semen Padang FC berlaga, pekerjaan sebagai buruh hanya sampingan. Hari-hari di antara deru mesin hanyalah ibadah panjang menunggu jadwal pertandingan. Da Af, memiliki seorang kawan. Ramon, namanya. Pemuda perantau yang berasal dari negeri yang sama dengan Hayati dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Dua sekawan merangkul anak-anak muda perantau lainnya di Karawang. Seorang pahlawan revolusi selalu mendengungkan “Buruh adalah motor perubahan”, maka tak salah ucapan pahlawan revolusi itu. Da Af dan Ramon, bahu membahu menggalang kekuatan, menunjukkan kecintaan pada sebuah klub sepakbola.

Da Af dan Ramon membuahkan hasil, awalnya anggota Spartack’s (Suporter Padang dan Anak Rantau Cinta Kabau Sirah) hanya dari para pekerja saja, belakangan, semua jenis kelamin dan pekerjaan sudah menjadi anggota Spartack’s Karawang. Di riuhnya daerah industri, hanya klub sepakbola obat sepi.

Tak hanya menggerakkan acara kumpul-kumpul semata, para anggta Spartack’s membuat Ikatan Keluarga Minang menjadi lebih hidup dan berwarna. Ikatan tali silaturahmi warga Minang Karawang yang telah beberapa tahun mati suri, di tengah pertarungan hidup tanah perantauan, jadi semakin bergairah.

“Tanpa anak muda, jangankan acara halal bi halal, berkumpul saja mustahil,” ucap seorang lelaki tua  sambil menyeruput kopi. Ia bersyukur, di usia senja bisa mengenang kampong dari senyuman para perantau muda.

Kala itu, para perantau berkumpul. Merintang hati, membujuk rindu pada kampong. Mereka mengadakan acara halal bi halal. Dari anak kecil hingga yang tua berkumpul bersama. Mereka bercerita tentang kesibukannya dan tentu juga keadaan kampung halaman yang jauh di sana. Acara juga dimeriahkan oleh 2 penyanyi Minang, Oddy Malik dan Ucok Sumbara. Melalui nyanyian, mereka membasuh rindu para perantau. Uniknya acara ini bukan sekedar bertemu, makan-makan dan basa-basi serta berfoto untuk media sosial.

Acara halal bi halal ini menuliskan sebuah motto besar. “Kayo Bajamaah” yang artinya menjadi kaya berjamaah. Bahaya, orang minang selalu mau revolusi saja. Minimal revolusi ekonomi dengan menguasai Tanah Abang, sekarang mereka berlipat ganda di Karawang. Bahaya.

Hal yang sama juga pernah saya temukan di Banda Aceh. Para supporter, bukan sekedar orang-orang yang bersorak sorai di tribun penonton. Merekalah sejatinya duta wisata, merekalah cerminan sebuah klub, bahkan lebih dari itu, merekalah cerminan kebudayaan tempat klub sepakbola itu hidup.

Di Aceh, para suporter juga ambil andil mengembangkan tradisi, mereka tergabung dalam Hikebupusmi (Himpunan Kesenian Bungo Pusako Minang).

“Di manapun berada, budaya leluhur harus dikembangkan Nak.” ucap Datuak Marajo, orang tua angkat bagi semua anak muda Minangkabau yang merantau ke Aceh.

Suatu ketika, saat saya menonton Semen Padang berlaga di Stadion di Aceh, para supporter ini membawa Tambua (Alat mudik tradisional Minangkabau yang menyerupai gendang berukuran besar). Mereka asyik menabuhnya, seluruh tribun penontonpun bergoyang. Pemain di lapangan mungkin lupa bahwa ini laga tandang, bukan laga kandang.

Tak sekedar euforia saja, dengan Tambua dan menonton pertandingan sepakbola. Mereka juga serius mengembangkan dan mengenalkan kesenian pada orang-orang di perantau, termasuk pengghuni seluruh dunia. Mereka pernah mewakili Indonesia di event International Culture Day, di kampus Unsyiah Banda Aceh.

Saya mungkin tidak sefanatik teman-teman untuk urusan sepak bola, akan tetapi melalui jalur suporterlah yang mengantarkan saya untuk mengenali Indonesia.

Saya banyak belajar soal Indonesia dari perjalanan memburu jadwal bertanding Semen Padang FC. Meski tak rutin menonton di televise, tapi saya rela berjalan berminggu-minggu hanya untuk menonton pertandingan Semen Padang FC di Stadion Mandala Jayapura.

Beberapa kali saya bolak balik Jawa – Sumatera hanya untuk menonton pertandingan Semen Padang FC. Bahkan memberanikan diri melakukan perjalanan seorang diri ke ujung timur Indonesia untuk mendukung Semen Padang FC bertarung menghadapi Persipura.

Para suporterlah yang menjadi saudara meski tak satu ibu dan ayah, mereka adalah keluarga di perantauan, tempat berlindung kala hujan dan gigilnya perjalanan mengelilingi Indonesia ini. Tak hanya Spartack’s, namun semua supporter di Republik Indonesia ini saling mencintai, meski ada beberapa yang terus saja merawat dendam. Namun, bagi saya supporter adalah harga mati soal persatuan. Berlaga di lapangan, bergandengan tangan di luar stadion.

7 tahun lalu di depan kantor PSSI, saya ditunjuk untuk menjadi Kojor (Koordinator Jorong) atau ketua Sapartacks Jabodetabek. Awalnya saya menolak karena wawasan saya tentang Semen Padang FC tidak begitu luas, apalagi saya tak se-fanatik teman-teman yang lain. Bagi saya dunia suporter hanyalah satu warna dari ribuan warna kehidupan. Tak ada fanatisme yang berlebihan atau membela sampai mati.

Saya sangat penakut untuk ikut tawuran, kadang kala kalau bertemu dengan suporter yang lagi rusuh, saya lebih memilih untuk menyingkir. Spartacks adalah suporter non blok, kami bersudara dengan suporter manapun dan tidak ikut-ikutan dalam permusuhan antar suporter.

Di dalam organisasi, saya membebaskan untuk siapa saja membuat kaos atau syal suporter tanpa fee untuk organisasi. Karena hidup di tanah perantauan artinya bertarung mengisi perut dan kepala, mungkin berjualan merchandise suporter bisa menjadi peluang usaha bagi teman-teman.

Kartu anggota tak pernah terwujud, bukan karena tak taat administrasi. Sebab untuk persaudaraan tidak membutuhkan kartu anggota, tak ada perbedaan. Meski tak ada kartu anggota, tapi kami saling kenal dengan baik, higga ritme ngorok bisa saling hafal.

Menjadi seorang suporter tidak hanya berteriak lantang di triibun penonton saja, ada perkenalan di sana, ada saling menghargai antar pendukung.  Meski berbeda latar belakang, bau badan, penghasilan, bahkan berbeda pandangan politik, di Spartack’s kami selalu merayakan pelangi kehidupan melalui sepak bola, dan juga sebagai obat penawar rindu untuk kampung halaman.

Salam Sanak Sakampuang

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up