Ranah

Balada Aung San Suu Kyi Nasionalisme nya Mengalahkan Humanisme

Desember adalah bulan ketabahan untuk Aung San Suu Kyi. Perempuan peraih Nobel perdamaian asal Myanmar itu memang tenar sejagat karena ketabahannya. Dia jadi teladan untuk setiap orang yang menolak represi. Bukti nyata bahwa kekuatan mimpi itu ada. Monumen hidup tentang keyakinan yang mampu mengalahkan todongan senjata. Semua kekuatan dan ujian Suu Kyi berawal di bulan Desember.

28 Desember 1988, Khin Kyi ibunda Suu Kyi wafat. Kepergian ibunya melengkapi kesendirian Suu Kyi. 41 tahun sebelumnya sang ayah Mayor Jenderal Aung San, pejuang kemerdekaan Myanmar tewas diberondong senjata di kantornya. Di tengah-tengah 200 ribu massa yang menghadiri pemakaman ibunya, Suu Kyii mencanangkan tekadnya untuk meneruskan perjuangan kedua orang tuanya untuk rakyat Myanmar.

Suu Kyi menepati janjinya. Sejak saat itu dia menjadi pejuang demokrasi melawan junta militer di Myanmar. Dunia mengakui perjuangannya. Saat Nobel perdamaian diserahkan untuk Suu Kyi di tahun 1992, dia tidak sempat menghadiri karena status sebagai tahanan rumah. Dua buah hatinya dari pernikahan dengan Michael Aris yang akhirnya naik ke atas panggung menerima anugerah tersebut.

Total 15 tahun Suu Kyi menjadi tahanan rumah. Jalinan hidup yang dilaluinya penuh dengan tragedi. Mulai dari tewasnya sang ayah ketika dia masih berusia 2 tahun hingga meninggalnya sang suami di tahun 1999 yang tak bisa dia dampingi. Semua ketabahan ini pada akhirnya menuai hasil. Junta militer melunak, Pemilu diselenggarakan dengan menyertakan partainya Suu Kyi, NLD. Hasilnya pelan tapi pasti Suu Kyi tidak hanya keluar dari tahanan rumah tetadi juga menjadi tokoh paling penting dalam pemerintahan demokratis Myanmar sebagai State Counsellor dan Menteri Luar Negeri.

Kebetulan atau tidak, sejak keran demokrasi dibuka oleh junta militer di Myanmar, kerusuhan berbau etnis mulai terjadi. Yang paling sengsara tentu saja etnis muslim Rohingya. Sejak tahun 2012, kerusuhan berbau pembersihan etnis terus terjadi di Rohingya. Suu Kyi, sang peraih nobel perdamaian, lebih sering membisu. Dia berdalih, tidak ingin berdiri di salah satu pihak. Dia ingin mengangkangi satu bangsanya.

Rupanya Suu Kyi tidak selamanya benar. Saat kita dihadapkan pada pilihan nasionalisme dan kemanusiaan maka seharusnya kemanusiaan yang dimenangkan. Tetapi bagi Suu Kyi nasionalisme adalah yang utama, konstituen pemilih NLD yang sepertinya sangat membenci etnis Rohingya jauh lebih penting. Suu Kyi sekarang mungkin justru bertanya-tanya pada dunia, bukankah dia dulu dianugerahi Nobel karena nasionalisme dan demokrasi dan bukan karena humanisme dan kesetaraan?

Aung San Suu Kyi telah berubah jadi Medusa. Perempuan berambut ular dalam mitologi Yunani. Siapapun yang menatap Medusa akan musnah menjadi batu. Mungkin karena itu Suu Kyi tidak hendak bercermin melihat diri sendiri. Dia takut tatapan matanya, -di bawah penderitaan etnis Rohingya di Myanmar-, justru akan memusnahkan diri sendiri.

Indonesia berhutang pada Myanmar yang dulu dikenal dengan sebutan Burma. Karena kemurah hatian mereka lah pesawat Seulawah alias RI 001 bisa beroperasi untuk membiayai perjuangan melawan Belanda. Hutang itu harus dibayar sekarang dengan cara membantu Myanmar (dan tentu saja Suu Kyi) untuk kembali meletakkan humanisme di atas nasionalisme

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up