Ranah

Arema dan Cinta Pertama Saat SMK

Arema, klub kesayangan. 600 kilometer lebih kutempuh hanya untuk melihat Arema berlaga di Stadion Kanjuruhan. Aku, gadis biasa yang tinggal di Pacitan, remaja yang mencari jati diri dan sebuah hobi. Dalam lingkar perteman saat SMK, rasa cinta yang mulai tumbuh ini semakin mekar.

Kelas 1 SMK menjadi pelepas rindu yang membuncah, bermodal nekat, aku tempuh jarak 600 kilometer pulang pergi. Tanpa izin orang tua, aku nekat pergi. Meski, harus bermalam di jalanan tak jadi soal, asal bisa melihat langsung Arema berlaga di Kanjuruhan.

Lahi dan besar di komunitas dan lingkaran pertemanan yang mendukung Arema sebagai tim kebanggaan. Kelas 1 SMK menjadi awal pertama mendukung Arema secara langsung bukan nonton lewat televisi saja.

Di Pacitan, masih banyak orang-orang yang menilai supporter itu anak-anak yang tidak bener padahal tidak. Nah, pada saat itu komunitas pendukung Arema di daerahku mengadakan tour saat Arema vs Persela. Geng SMP-ku yang cewek-cewek mengajakku ikut.

Aku udah coba minta izin sama orangtua, tapi gak diberi izin. Aku kecewa, apalagi jarang ada kesempatan tour bareng sahabat-sahabat. Apalagi, aku tak punya uang, tak diberi izin, berarti tak diberi uang jajan. Akupun curhat pada untuk meminjami uangnya, dan tetap nekat pergi ke Kanjuruhan meski tanpa izin.

Saat sudah dipinjami uang, akupun minta izin pada orang tua untuk mengerjakan tugas di rumah teman dan harus menginap. Mungkin karena membohongi orang tua, waktu diperjalanan itu, ada kecelakaan kecil, mobil yang kami tumpangi tabrakan dengan bus ketika di tikungan di Trenggalek. Tapi alhamdulillah, mobil kami hanya sedikit lecet. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan menuju Kanjuruhan.

Sampai di stadion Kanjuruhan pas kick off babak pertama. Kami langsung masuk ke tribun. Aku merinding, serupa masuk ke kandang singa. Gemuruh penonton, teriakan dukungan, mereka yang kompak bergerak dan menyanyikan lagu-lagu untuk mendukung Arema membuatku hampir meneteskan air mata dan merasa bangga menjadi bagian dari pendukung Arema.

Para Aremania Aremanita kompak bernyanyi, menari di atas tribun untuk memberi dukungan kepada pemain Arema. Aku dengar banyak kabar miring dan jelek soal pendukung Arema. Namun di stadion ini terbukti, saat aku dalam kerumunan supporter, aku mendengar dan juga ikut menyanyikan ucapan selamat datang LA mania dan dibalas ucapan terimakasih Aremania oleh para supporter LA Mania.

Rasanya damai sekali melihat persaudaraan antara Aremania dan LA Mania. Ketika pertengahan babak kedua, saat itu masih boleh menyalakan flare di stadion. Seorang Aremania asal Malang memberikan padaku sebuah flare untuk dinyalakan bersama-sama. Meski tak kenal sam sekali, kami tetap menari dan menyanyi bersam dengan flare yang menyala di tangan saya. Nuwus Sam.

Setelah pertandingan selesai tidak lupa kami membeli oleh-oleh di toko yang ada di Kanjuruhan. Setelah itu kami pulang ke Pacitan. Orang tuaku tak tahu bahwa aku sudah kembali dari Kanjuruhan, aku membawa baju ganti untuk sekolah dan masuk sekolah paginya.

Tur aku yang kedua waktu aku kelas 2 SMK. Sama dengan yang pertama, aku nekat ke Kanjuruhan tanpa izin orang tua. Kenekatan ini karena yang pertama jelas kangen suasana tribun, yang kedua aku ingin melihat bendera terbesar one incredible blue yang akan dikibarkan bersama-sama. Terlebih dan lawannya adalah rival abadi dari Arema yaitu Persib Bandung.

Hanya bermodalkan Rp100.000 saja, aku sama temanku patungan untuk berangkat ke Kanjuruhan naik motor dan boncengan. Ini pengalaman paling gila selama aku menonton Arema karena aku dan temanku tidak hafal jalan ke Kanjuruhan. Teman-teman yang pakai mobil berangatnya subuh, dan aku dari Pacitan jam 9 pagi. Kami hanya hafal jalan dari Pacitan ke Ponorogo saja. Kami gak ada yang punya SIM karena belum 17 tahun. Akhinya tanya orang-orang di jalanan.

Akhirnya sampai di Trenggalek. Di Trenggalek ketemu Aremania Trenggalek dan berangkat bareng ke stadion. Sesampai di stadion, aku mencari robongan dari Pacitan yang sudah datang duluan. Kami datang terlambat, semua tiket di counter resmi sudah habis dan terpaksa beli ke calo. Aku dan temenku istirahat di dekat pintu masuk tribun ketemu sama pak polisi. aku ditanya dari Arema mana. Aku jawab dari Pacitan. Ditanya lagi tempat kelahirannya bapak SBY ya katanya?

Pacitan memang kelahiran Bapak presiden SBY, kami ngobrol-ngobrol setelah itu masuk stadion. Setelah kick off dimulai Aremania mengibarkan berdera one incredible blue diiringi dengan lagu Salam Satu Jiwa dengan gerakan tangan khas Arema dan lantunan drum . Aku merasa bangga berada ditengah-tengah mereka. Arema pun menang.

Setelah pertandingan kami segera pulang karena esok harinya harus ke sekolah. Saat di parkiran, kami bertemu sepasang suami istri, mereka memberi kami permen katanya buat dimakan di perjalanan. Makasih pak, buk. Emang benar orang Malang itu ramah dan baik hati.

Selanjutnya kami pulang, namun banyak berhenti karena lelah dan ngantuk. Kami sempat tidur dulu di masjid yang ada di Blitar. Terus berhenti di Tulungagung untuk makan karena lapar. Berhenti di Trenggalek, dan pom bensin Ponorogo. Sampai Perbatasan Pacitan, aku minta berheti karena kakiku kesemutan, tak tahan lagi karena kebanyakan duduk.

Jelang wilayah Pacitan, kami mampir di warung kopi di Tegalombo, setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Sesampai wilayah Pacitan, kami teriak teriak di jalanan. “Kami Arema Salam Satu Jiwa” padahal adzan subuh mau berkumandang, kami malahan membunyikan klaksonnya terus biar kaya terompet.

Aku tertawa melihat tingkah konyol temenku tapi akhirnya ikutan kaya orang gila. Sampai di Pacitan kota sudah jam 6 pagi. Aku langsug ke sekolah. Karena aku juga sudah persiapkan baju ganti. Mandi di toilet sekolah.

Waktu pelajaran aku hanya tidur. Teman-teman sekelas sangat pengertian, mereka bilang sama gurunya kalau aku dari Malang dan kecapekan. Eh malah aku disuruh tidur di kelas. Kebetulan ibu gurunya asyik, dan tanpa basa-basi, aku benar-benar tidur di dalam kelas. Teman-temanku yang bilang ke bu guru kalau aku dari Malang abis nonton bola itu adalah anak Bonek. Alhamdulillah di kotaku hubungan Arema, Bonek, The Jak dan Viking damai-damai aja. Kami malah bersatu untuk mendukung team lokal kami.

Setelah pulang sekolah dan sampai di rumah aku ditanyai mamaku kenapa wajahku jadi hitam. Aku bilangnya belum mandi aja. Namun, kebohongan itu tidak bertahan lama. Karena aku lupa menghapus fotoku di handphone akhirnya aku ketahuan dan dimarahi tidak boleh pergi nonton lagi sampai lukus SMK.

Setelah lulus SMK, aku kuliah sembari mencari kerja paruh waktu untuk tambahan uang jajan. Cinta terhadap Arema tak bisa ditahan, saat Arema berlaga dengan Surabaya United di Sleman aku kembali ngiler dan ingin menonton di tribun. Kali ini orang tuaku mengizinkan asal pakai uangku sendiri. Bagaimana tidak cinta mati? Setiap menonton di stadion, aku selalu mendapat teman baru karena Arema kita bersaudara. Susah seneng perjalanan menonton ke stadion tidak bisa dilupakan dan akan selalu menjadi kenangan yang indah.

Damai damai saudaraku, jabat erat penuh kasih sayang.
Untuk apa terus bertengkar, pertemuan ini adalah kabar.
Nuwus Nawak!!
SALAM SATU JIWA!!

 

Salam, Eva Yuliana, Aremanita Pacitan.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up