Ranah

Apapun yang Terjadi, Persik Kediri Tetap di Hati

Perkenalkan saya bocah desa yang lahir serta besar di daerah yang berdekatan dengan Bhumi Arema, tapi bukan berarti saya juga akan mendukung Arema. Kisah saya ini bermula ketika saya masih duduk di kelas 6 SD Tahun 2005. Saat itu kakak sepupu saya menikah dengan mantan pemain Persik Kediri, dan setelah itulah saya dikenalkan dengan dunia sepakbola lebih mendalam.

Ketika saya menghadapi Ujian Nasional (UN) kakak sepupu saya itu menjanjikan sebuah hadiah berupa jersey Persik Kediri. Setelah UN selesai dan saya lulus dari SD, kado yang dikasih ternyata tak sesuai dengan janjinya.

Saya hanya mendapatkan kaos supporter dan syal Persik Kediri, tapi saat itu saya tetap senang mendapatkannya. Setahun berselang saat Tahun 2006 Persik Kediri lolos fase final Divisi Utama, berhadapan dengan PSIS Semarang di Stadion Manahan Solo Jawa Tengah. Saat itu saya juga bertepatan sedang berada di Kediri, ada acara keluarga.

Bersamaan dengan itu Pemkot (pemerintah kota) Kediri mengerahkan beberapa armada bus buat supporter Persik Kediri berangkat ke Solo. Awalnya saya dan beberapa keluarga juga berencana buat ikut ke Solo, tapi karena ada hal yang bersifat mendadak, niat ke Solo-nya dibatalkan.

Alhasil kami sekeluarga hanya bisa nobar (nonton bareng), dan saat Persik mengunci gelar keduanya setelah Tahun 2003. Suasana Kota Kediri pecah, penuh uforia di jalanan para supporter berkonvoi berkeliling kota, sayangnya pas saat perayaan gelar juara konvoi membawa thropy itu, saya sekeluarga harus pulang ke desa. Sehabis moment itu saya terus mengikut pertandingan Persik Kediri meskipun hanya lewat layar kaca.

Singkat cerita pas tahun 2009, klub asal daerah sendiri yakni PSBI Blitar sedang naik pamornya, karena baru saja naik kasta ke Divisi Utama.

Alhasil dukungan supporter Blitar masih rame-ramenya, karena penasaran dengan nama PSBI Blitar. Akhirnya saya ngajakin salah satu kakak sepupu untuk nonton PSBI Blitar. Karena saat itu saya masih duduk di kelas 11 sebuah SMK Negeri yang masuk sekolahnya siang, saya nekat ijin tidak masuk sekolah dengan alasan ada acara keluarga padahal saya nonton bola (gak patut untuk ditiru lho ya, hehe).

Saat itu PSBI Blitar berhadapan lawan Persitara Jakarta Utara di Stadion Soeprijadi Kota Blitar, pertandingan yang berjalan keras itu akhirnya dimenangkan PSBI Blitar 1-0.

Saat itu adalah moment pertama saya merasakan atmosfir pertandingan di stadion dan juga atmosfir supporter sepakbola secara nyata. Beberapa hari berselang PSBI Blitar menjamu Persibo Bojonegoro masih di stadion yang sama, saat itu saya benar benar nekat bolos sekolah tanpa ijin sekolah maupun orang tua.

Saya berangkat bersama rombongan besar dari desaku, sampai stadion hanya bisa berada di sisi bawah tribun karena tribun sudah full. Pertandingan berjalan panas bergitu pun di tribun, karena sebelum itu ada kejadian bentrok supporter Blitar dan Kediri di Brawijaya.

Di stadion Soeprijadi juga terjadi pembakaran syal Persik, saat itu saya dilema ingin marah rasanya.

Sejak saat itu saya nekat juga nonton Persik Kediri meskipun harus naik Kereta Api, karena saat itu belum punya SIM (Surat Ijin Mengemudi). Saya juga setia menempati tribun Timur sisi utara Brawijaya yang dihuni Persik Mania. Dan mulai saat itulah hati saya terpaut di Persik Kediri.

Meskipun begitu saya juga masih mendukung PSBI Blitar dan bergabung dengan salah satu kelompok supporter PSBI yakni Garis Keras 1928 (Curva Sud Blitar). Hingga suatu kejadian membuat saya mundur menjadi supporter PSBI, saat itu pertandingan home terakhir lawan PSIM Jogjakarta di Stadion Aryo Blitar Srengat tanggal 14 Agustus.

Ada sedikit gesekan terjadi antara Garis Keras 1928 sama Ultras Blitar (cikal bakal Freedom Gate 1928), usai pertandingan ada pelemparan flare ke tribun yang kita tempati.

Setelah itu massa ultras menyerang hingga merampas banner Garis Keras, tak cukup sampai di situ, di jalan pulangpun ada aksi swipping terhadap kelompok Garis Keras 1928 disertai pelemparan batu.

Setelah kejadian itu ada sebuah perdamaian antara Garis Keras 1928 dengan Ultras Blitar. Alhasil Garis Keras 1928 pun menjadi bagian baru dari Ultras Blitar yg kemudian berubah nama menjadi Freedom Gate 1928 (Fregate). Saya salut sama teman – teman ini karena mau meninggalkan ego serta gengsi lamanya di masa lalu.

Bukan saya gak loyal sama PSBI Blitar, tapi saya sudah berjanji untuk menjadi penonton saja saat PSBI berlaga (efek aksi kekerasan antar supporter PSBI). Fokus saya hanya ke Persik Kediri setelah itu, gak tahu kenapa hati ini gak bisa memungkiri bahwa Persik Kediri adalah yang ada di raga ini.

Mulai beberapa tahun silam saat nonton Persik Kediri saya suka menempati tribun Utara Brawijaya yang di huni kelompok Brigata Curva Nord CYBERXTREME X PERSIK 1950. Bukan nyari tenar ataupun numpang eksis tapi hasrat saya ada di tribun ini, meskipun gak ada yang dikenal saat di tribun.

Hingga saat ini saya masih support Persik Kediri meskipun keadaannya sedang terpuruk, laga home terakhir yang berkesan saat menjamu PSMP Mojokerto. Laga panas penuh gengsi, yang akhirnya dimenangkan Persik Kediri lewat gol tunggal Bima Ragil. Setelah pertandingan saya langsung pulang dan sampai di rumah cek media sosial Facebook, saya kaget ada kejadian kurang baik ternyata seusai laga.

Pada dasar saya tidak suka dengan kekerasan dalam sepakbola, bukan saya takut jadi korban. Tapi lebih karena pemikiran rasional, lebih baik menjaga daripada merusak. Hal ini juga membuat saya memutuskan jadi penonton di PSBI Blitar kala itu, support saya sudah total di Persik Kediri meskipun banyak yang mencibir sikap saya ini.

Saya tinggal di daerah yang mana banyak orangnya yang mendukung AREMA, tapi saya gak pernah tergoda untuk ikut mendukungnya. Karena hati saya sudah di Kediri, apapun yang terjadi kucoba tetap berdiri mengibarkan panji Persik Kediri.

Panggah penak seduluran !!! #DjajatiPersikKediri
Adi Wibowo, Blitar

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up