Ranah

⁠⁠⁠Di Hadapan Marsinah, Republik Ini Impoten

24 tahun berlalu, Buruh perempuan yang belum sempat menikah itu meregang nyawa dengan luka mengerikan di sekujur tubuhnya. Tak satu jua penegak hukum punya taji di republik ini. Omong soal keadilan, tapi kasus kejahatan kemanusian zaman lalu saja gagal diungkap. Bukan gagal, lebih tepatnya tak berani mengungkap.

Saya ketakutan hidup di republik Indonesia ini, nyawa dengan mudah hilang begitu saja oleh negara. Jika kematian datang menghampiri, saya selalu berdoa pada Tuhan semesta alam, agar jangan bersangkutan dengan negara.

Begini, anda bisa dengan mudah meninggal dunia karena lubang jalan yang tak kunjung ditambal, anda bisa saja mati terpanggang, lalu pemerintah bilang karena korsleting. Padahal, semua juga tahu, perusahaan listrik negara tak becus mengurusi kabel-kabel mereka yang terjuntai-juntai di selangkangan gang-gang sempit.   Apatah lagi, mau mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang maha penting. Mereka butuh uang, bukan memberikan kebenaran dan kepastian hukum bagi warga negaranya.

Anda ragu? Sedikit saya berbagi rahasia. Persidangan yang katanya jadi perhatian publik, hanyalah rekayasa media massa yang memaksa orang-orang di luar Jakarta menonton Jesica. Padahal, itu tak penting sama sekali. Itu pidana murni.

Tak ada hubungannya bagi para petani nun jauh di pedalaman Sumatera. Sidang kasus Jesica, tak akan menaikkan hasil tangkapan nelayan di Sorong, Papua sana. Kasus sianida dengan pahlawan Krisna Murti itu, tak akan bisa menghentikan pemecatan ratusan buruh pabrik pengalengan ikan di Ambon sana.

Tapi, Marsinah? Ia membuat perempuan-perempuan karir hari ini punya hak cuti haid, cuti melahirkan. Manfaaatnya dirasakan oleh jutaan orang di republik ini. Nyata, dan anda menikmatinya bukan?

Jenguklah Marsinah, walau tak harus dengan datang ke Nganjuk dan berteriak di jalanan setiap hari buruh. Jenguklah ia dengan mengingat kasus pembunuhannya yang sadis. Begitulah orang-orang dahulu bertaruh, sebab mereka ingin memenangkan hidup ini.

Lalu, kita, apa yang sudah kita pertaruhkan untuk memenangkan hidup sendiri? Apa lagi peduli pada hidup orang banyak. Tak percaya? Anda sudah membuang mantan di tempatnya belum? #eh

Marsinah tak takut popor senjata, tak surut dengan ancaman pemecatan. Ia perempuan, muda, kurus berambut sebahu, datang ke markas tentara dengan sendal jepit, Marsinah tak terima 13 kawannya di PHK. Ia tak terima jika gaji mereka jauh dari upah minimun, ia tak terima jika di masa depan nanti para perempuan tak bisa libur di saat haid mendera.

Jenguklah Marsinah, tanpa pengorbanannya, buruh-buruh pabrik tak mampu membeli sepeda motor Ninja yang membuat anda curiga dengan gajinya. Padahal, modal KTP saja, apapun bisa dikredit di negara ini.

Lalu, apa pentingnya Marsinah? Kan kasusnya sudah kedaluarsa. Ini penting saudara! Apakah anda mau mati di tangan orang yang anda berikan kepercayaan padanya?   Negara adalah tempat menitipkan segala hak dan kepercayaan, tempat menumpangkan hak asasi yang sebenarnya milik anda sepenuhnya.

Anda tumpangkan itu hak asasi pada negara, agar ia mengaturnya. Melindungi hak orang lain, agar tak mengganggu hak anda. Mengatur hak anda agar tak mengganggu hak orang lain. Dan mengatur, semua yang ber”hak” agar dapat bagian rata dari Om-om berduit.

Saya diam-diam mau memerdekakan diri dari Indonesia, karena takut dibunuh oleh negara. Serupa cinta, dikhianati itu rasanya serupa tulang-tulang di tubuh anda remuk. Seperti remuknya tulang pinggul, patahnya tulang rusuk dan berkeping-kepingnya tulang masuk ke lambung Marsinah.   Karena, kasus Marsinah sudah kedaluarsa. Maka, siapapun yang membunuhnya, tak akan lagi bisa diseret ke pengadilan.

Maka, ijinkan saya mengungkap siapa pembunuhnya, mereka bergerombol membunuh Marsinah, lalu memperkosanya selama 24 tahun. Mereka itu gerombolan yang dikenal dengan nama “Negara”.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Scroll Up